Rabu, 08 Desember 2010
mengungkap strata-strata (stratifikasi sosial) dalam masyarakat
Saat ini,mungkin kata-kata stratifikasi sosial atau juga yang lebih kita kenal dengan kasta masih menjadi salah satu dari sekian banyak permasalahan yang ada di dunia.Dalam hal ini terdapat beberapa hal-hal yang menarik untuk diungkap dan dibicarakan lebih jauh lagi dan bagaimana juga kita dan masyarakat lainnya harus menyikapi hal ini.
Saya tahu anda, dan mugkin juga saya memiliki pemikiran sendiri tentang fenomena stratifikasi sosial yang terjadi di masyarakat. Mungkin kita merasa kita jauh lebih baik dibandingkan orang lain atau mungkin malah kita merasa kita tidak ada apa-apanya dibanding beberapa orang di luar sana. Itu wajar karena itulah manusia, manusia selalu memiliki pemikiran, kemampuan, pandangan sendiri dalam bagaimana memandang sebuah permasalahan yang terjadi. Untuk lebih jauhnya kita akan coba mempelajari dan mengetahui apa itu stratifikasi sosial dalam masyarakat dan bagaimana kita harus menyikapinya.
Staratifikasi sosial adalah pengelompokan masyarakat ke dalam golongan-golongan/tingkat tertentu yang dampaknya adalah timbulnya lapisan-lapisan di dalam masyrakat, dari lapisan tertinggi berlanjut ke lapisan dibawahnya. Ada beberapa faktor penyebab adanya lapisan sosial di masyarakat.
A. Pertama adalah dilihat kemampuan ekonomi seseorang. Jika kita lihat yang teerjadi di masyarakat semakin besar kekayaaan seseorang otomatis derajatnya akan naik dengan sendirinya dan akan menempati tingkt pertama dalam strata sosial.
B. Pengelompokan berdasarkan kekuasaan. tidak jauh berbeda dengan ukuran kekayaan. Jika seseorang mempunyai jabatan yang lebih tinggi dia dengan sendirinya akan berada ditingkatan yang lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja untuknya.
C. Pengelompokan masyarakat biasanya juga bisa terjadi karena tingginya penghormatan terhadap seseorang. Ukuran ini biasanya bisa kita jumpai di masyarakat tradisional. Ini disebabkan karena orang yang dihormati itu berbuat sesuatu dengan jasa-jasanya kepada masyarakat. Dan ini berlangsung dengan tanpa disadari.
D. Yang terakhir dapat dilihat dari intelegensi atau ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang. Ini biasanya bisa kita temui dilingkungan akademik atau gelar-gelar yang diberikan. Contohnya sarjana, dokter, insinyur biasanya mereka yang memiliki gelar akademis ini di masyarakat juga akan menempati strata yang lebih tinggi dibanding yang belum memiki gelar apa-apa.
Jadi intinya adalah stratifikasi sosial adalah sesuatu yang bersifat universal. Jadi di lingkungan masyarakat seperti apapun akan kita temui pelapisan sosial tersebut. Di masa depan dikehidupan yang semakin modern semakin banyak pula stratifikasi sosial yang akan terjadi. Kita sebagai manusia tidak dapat menghilangkan hal ini, karena kembali lagi ke sifat asli kita sebagai manusia.Kita cuma bisa merubahnya menjadi hal yang lebih baik, tentunya dengan tidak memandang stratifikasi sosial ini sebagai sesuatu yang harus dipermasalahkan.Dan juga bagaimana sebisa mungkin orang-orang yang sudah memiliki kemampuan yang jauh lebih baik membantu orang yang dibawahnya untuk memiliki kehidupan yang setidaknya bisa diberikan lagi kepada orang yang juga membutuhkan daripada dirinya.
Rabu, 24 November 2010
alasan warga merapi tidak mau mengungsi saat merapi mengalami erupsi
Di saat status merapi dinyatakan awas ternyata tidak semua warga yang berada di sekitar lereng ataupun yang berada dalam daerah bahaya merapi semuanya mau mengungsi. Warga beralasan yang merupakan sumber kehidupan mereka, adalah mulai dari pertanian hingga peternakan. Secara kultural ada semacam ikatan kuat antara masyarakat di sana dengan gunung berapi itu karena mereka merasa aman dan nyaman secara ekonomis.
Dengan kata lain mereka tidak bisa begitu saja meninggalkan sumber mata pencaharian yang sangat penting bagi mereka untuk tinggal di tempat pengungsian. Selain itu berdasarkan fakta yang ada penyebab warga di lereng merapi tidak mau diungsikan diakibatkan oleh tingkat kepercayaan warga yang masih tinggi terhadap hal-hal mistis, hal itu dapat terlihat dari tingkat kepercayaan warga terhadap keberadaan juru kunci merapi yang dapat mencegah agar merapi tidak meletus, kepercayaan warga kepada hal tersebut semakin kuat ketika merapi yang diisukan akan meletus tahun 2006 ternyata tidak jadi meletus,hal tersebut juga menyebabkan tingkat kepercayaan warga terhadap para ahli geologi dan pemerintah pun juga menurun dan lebih mempercayai sang juru kunci.
Dan satu lagi yang membuat warga tidak mau mengungsi lantaran warga enggan meninggalkan hewan ternak mereka serta harta benda mereka. Jadi warga lebih memilih tinggal di rumah untuk menjaga hewan ternak mereka serta harta benda meskipun para relawan telah membujuk untuk mengungsi, akibatnya setelah merapi benar-benar meletus pada sore hari banyak warga yang tidak dapat selamat dari keganasan awan panas merapi.
Jadi intinya warga merapi enggan mengungsi dikarenakan oleh tingkat kepercayaan mereka terhadap juru kunci yang masih tinggi serta mereka enggan meninggalkan harta benda dan pergi ke pengungsian.
Dan faktor lain yang menyebabkan warga tidak mau segera mengungsi adalah adanya keyakinan masyarakat bahwa daerah dimana mereka tinggal tidak akan terkena dampak letusan gunung Merapi.
Contohnya penduduk desa Kinahrejo, kabupaten Sleman, merasa yakin bahwa mereka akan terhindar dari letusan gunung Merapi. Selama ini, desa ini selalu luput dari ancaman Merapi. Namun yang terjadi, desa yang terletak 4 km dari puncak gunung Merapi ini luluh lantak terkena awan panas pada 26 Oktober 2010. Yang menyebabkan 31 warganya tewas.
Langganan:
Postingan (Atom)

